Roadmap Operasi Bypass Jantung (1)

Mei 1, 2008 - Leave a Response

Berdasarkan pengalaman bapak aku di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta dan Rumah Sakit Mitra Keluarga Surabaya, Prosedur Operasi ByPass Jantung terdiri atas 3 tahapan besar, yaitu:
A. Tahap Pra Operasi
B. Tahap Operasi
C. Tahap Paska Operasi

A. Tahap Pra Operasi

0. Keluhan Awal, EKG dan Treadmill

Pada awalnya, bapak mengeluhkan adanya sedikit sesak nafas bila berjalan agak tergesa-gesa dan agak jauh. Lalu bapak memutuskan untuk konsultasi ke dokter spesialis jantung (kardiolog). Dari referensi yang kami dapat dari beberapa dokter kenalan kami, kami dirujuk ke salah satu kardiolog yang terbaik di Surabaya, yaitu Dr. Iswanto Pratanu, Sp.JK. Beliau praktek di RS Mitra Keluarga Surabaya dan RS RKZ Surabaya. Selain itu, beliau praktek pribadi di Jl Dharmahusada … (seberang Galaxi Mall).

Pada pertemuan pertama, bapak langsung menjalani pemeriksaan EKG. Namun hasilnya tidak menunjukkan adanya sesuatu yang abnormal. Pemeriksaaan kemudian dilanjutkan dengan treadmill. Hasilnya menunjukkan adanya penyempitan yang cukup signifikan pada pembuluh darah jantung bapak. Namun belum dapat dipastikan berapa titik penyempitan dan berapa besar persentase penyempitan. Untuk mengetahui penyempitan secara lebih detail, dokter Iswanto menyarankan dilakukan prosedur angiografi atau kateterisasi jantung (cat).

Akhirnya disepakati bahwa cat dilaksanakan di Rumah Sakit Mitra Keluarga dalam waktu satu minggu setelahnya. Kami diberikan pengantar untuk diberikan kepada pihak rumah sakit agar disiapkan segala sesuatunya.

1. Kateterisasi (AngioGraphy)

Selama seminggu sebelum prosedur cat dilaksanakan, kami mencari tahu segala sesuatu tentangnya, terutama tentang resiko yang ditimbulkannya. Kami mendapat informasi bahwa prosedur cat mempunyai resiko yang harus diwaspadai terkait dengan emboli (bekuan/gumpalan) darah.

Setelah kami tanyakan ke dokter Iswanto, ternyata resiko itu untuk pasien yang pernah mengalami serangan jantung, karena serangan jantung menyebabkan terjadinya gumpalan darah yang menempel pada dinding pembuluh darah. Saat insersi kateter, emboli tersebut bisa tersenggol kateter sehingga terlepas. Nah, kondisi ini sangat berbahaya karena emboli tersebut bisa langsung menyumbat pembuluh darah jantung. Namun demikian, untuk pasien yang belum pernah mengalami serangan, hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena kecil kemungkinannya terdapat emboli.

Setelah mendapat keyakinan bahwa kateterisasi aman, bapak pergi ke RS Mitra Keluarga untuk menjalani cateterisasi. Setelah menyerahkan surat pengantar dari dr Iswanto, kami diminta untuk membayar DP sebesar Rp 9,5 Juta untuk paket Kateterisasi Jantung. Kemudian, dari ruang cat, jadwal disepakati untuk hari berikutnya.

Keesokan harinya, bapak kembali lagi ke RS Mitra Keluarga untuk menjalani prosedur kateterisasi. Prosedur Kateterisasi dilakukan oleh seorang dokter kardiolog, untuk bapak dilakukan oleh dr Iswanto sendiri. Tujuannya adalah untuk melihat jumlah titik penyempitan pembuluh darah jantung sekaligus tingkat persentase keparahannya. Prosesnya sendiri hanya memerlukan waktu sekitar 1 jam. Sebelum dilakukan prosedur, bapak harus berpuasa paling sedikit 4 jam, dan selama itu hanya boleh minum sedikit air putih.

Lokasi insersi kateter umumnya dilakukan pada dua tempat:
a. Pembuluh darah di Perut bagian bawah, dekat selangkangan

Sebagai persiapan, rambut dan bulu disekitarnya, termasuk rambut kemaluan (pubic hair) harus dicukur, dan sebaiknya yang bersih ;-) . Hal ini dilakukan untuk menjaga higienitas daerah sekitar luka insersi guna mencegah infeksi yang bisa ditimbulkan oleh kuman yg menempel pada rambut/bulu.

b. Pembuluh darah di pergelangan tangan.

Pada saat itu, bapak dikateterisasi dekat selangkangan. Padahal bila memungkinkan (pembuluh darah tangan cukup besar), sebaiknya kateterisasi dilakukan lewat pergelangan tangan. Hal ini karena proses recovery paska kateterisasi via tangan jauh lebih nyaman dibandingkan bila dilakukan via dekat selangkangan. Jika dilakukan lewat pergelangan tangan, pasien hanya diminta untuk tidak menekuk pergelangan tangan selama 4 jam paska kateterisasi. Namun jika lewat dekat selangkangan, pasien diharuskan bed rest dalam posisi terlentang dan selama semalam tidak boleh menekuk kaki disisi yang dilakukan insersi kateter. Sehingga hal ini cukup menyiksa.

Untuk mencegah rasa sakit, bapak diberikan bius/anestesi lokal. Sehingga selama dilakukan kateterisasi, bapak bisa melihat prosesnya pada layar monitor. Waktu itu kami, selaku keluarga pasien, dipanggil untuk ditunjukkan kondisi penyempitan pembuluh jantung yang diderita oleh bapak dan diajak berunding tentang tindakan terbaik yg dapat dilakukan. Akan tetapi, di RSJ Harapan Kita, hal ini tidak dilakukan karena jumlah pasien cat yang sangat banyak.

Hasil angiografi bapak menunjukkan bahwa terdapat lima penyempitan pembuluh darah jantung. Satu 80%, dua 70% dan dua 50%. Tiga diantaranya (80% dan 70%) terletak pada percabangan. Awalnya dr Iswanto menawarkan dua alternatif tindakan, pasang sten yang bisa dilaksanakan saat itu juga oleh beliau atau bypass pembuluh darah jantung diluar Surabaya oleh dokter ahli bedah jantung. Namun dengan mempertimbangkan posisi penyempitan pembuluh darah di percabangan, dr Iswanto lebih menyarankan untuk diambil tindakan bypass. Alasannya adalah selain posisi itu sulit untuk dilaksanakan pemasangan sten, kalaupun dipaksakan kemungkinan buntu kembali dalam waktu kurang dari 1 tahun sangat besar. Sedangkan bila dilakukan bypass, meskipun resikonya lebih besar (sekitar 5%), bila berhasil kemungkinan buntu kembali jauh lebih lama (secara teori bisa sampai 20 th, bila pola makan dan pola hidup dijaga). Dalam hal ini kami sangat menghargai sikap terus terang dr Iswanto yang mengutamakan kepentingan pasiennya.

Untuk bypass, dr Iswanto menyarankan tiga alternatif tempat:

- Rumah Sakit Pusat Jantung Harapan Kita Jakarta

- Rumah Sakit Aventis Penang Malaysia

- Rumah Sakit Glen Eagles Singapore

Saat itu bapak dan kami belum bisa memutuskan, sehingga oleh dr Iswanto luka insersi kateter ditutup dulu tanpa pemasangan sten. Kami diberi waktu sampai sebulan untuk memikirkan alternatif tindakan yang dipilih.

Sebagai hasil kateterisasi jantung, yang juga dikenal dengan nama angiografi, bapak diberikan foto semacam hasil Rontgen/USG ukuran A0 dan sebuah Video CD yang menggambarkan kondisi penyempitan pembuluh darah jantung bapak. Foto dan Video ini yang akan dievaluasi oleh Cardiolog untuk menentukan alternatif tindakan selanjutnya, yaitu pasang sten, operasi bypass atau hanya dilakukan treatment pengobatan.

Setelah selesai kateterisasi, bapak diantar ke kamar perawatan dan karena kateterisasi dilakukan via dekat selangkangan, maka bapak harus bedrest selama semalam untuk menghindari terjadinya pendarahan.

Sebagai perbandingan, proses cat dan pemasangan sten di RS Mitra Keluarga Surabaya dan RS Harapan Kita Jakarta agak berbeda prosedurnya. Bila di RS Mitra Keluarga Surabaya pemasangan sten bisa dilakukan pada saat yang sama setelah angiografi, di RS Harapan Kita Jakarta tidak bisa. Di RS Harapan Kita Jakarta, angiografi dan pemasangan sten dilakukan terpisah pada hari yang berbeda. Setelah angiografi, pasien harus konsultasi dulu dengan kardiolog untuk kemudian dijadwalkan pemasangan sten yang prosesnya sangat mirip dengan kateterisasi jantung untuk angiografi.

2.Keputusan untuk Operasi ByPass Jantung

Setelah maju mundur dan melakukan pertimbangan yang masak serta masukan dari berbagai pihak, akhirnya bapak memutuskan untuk pergi ke Jakarta guna menjalani Operasi Bypass seperti yang direkomendasikan oleh dr Iswanto. Aku sudah memesan tiket pesawat ke Jakarta menggunakan Mandala Air. Namun menjelang keberangkatan, bapak berubah pikiran. Bapak memutuskan untuk pasang ring/sten. Karena tiket pesawat sudah aku beli, maka kami putuskan untuk tetap pergi ke Jakarta, dan minta second opinion dari dokter disana. pemasangan ring. Saat itu, bapak ada perasaan takut untuk menjalani operasi bypass karena itu adalah operasi besar.

3.Konsultasi ke Dokter Bedah Jantung

4.Setting jadwal Operasi

5.Mendaftar Rawat Inap

6.Persiapan menjelang Operasi
a.@home
b.@hospital

7.Admission->masukrawatinap
a.Konfirm kamar perawatan
b.Bayar down payment

8.Persiapan @hospital
a.H-2
b.H-1
c.H

9.Operasi

10.R.ICU

11.R.Intermediate

12.Kembali ke kamar perawatan

13.Rehabilitasi Medik Jantung

14.Keluar rumah sakit

Survival Guide di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita (1)

April 14, 2008 - Leave a Response

Hari ini sudah seminggu lebih aku berada di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta menemani papi yang menjalani operasi bypass jantung. Tepatnya ini hari kedelapan. Puji Tuhan, semua berjalan dengan lancar. Perjalanan dari Surabaya ke Jakarta, persiapan operasi, jalannya operasi, proses di ICU, proses di ruang Intermediate, dan sekarang proses rehabilitasi jantung paska operasi; semua lancar.

MENUJU KE RUMAH SAKIT JANTUNG HARAPAN KITA

Kami bertiga–aku, istri dan papi–tiba di Jakarta dari Surabaya hari Senin pagi dengan pesawat MD82 Wings Air yang katanya kena cekal larangan terbang karena masalah kelistrikan. Puji Tuhan penerbangannya oke. Tapi dinginnya itu lho.. minta ampun deh. Dari Cengkareng ke RSJ Harapan Kita kami ada jemputan BMW .. lumayan daripada bayar taxi bandara yang 150 ribu perak itu. Sebenarnya kalo bawaan nggak banyak, utk sampe ke Harapan Kita, kita bisa naik bis Damri jurusan Blok M dan turun di bus stop SLIPI, dekat sekali dengan RSJ Harapan Kita dan RS Dharmais. Yah, lewat dikit lah.. 200 meter kali..tinggal jalan. Oya, RSJ Harapan Kita berada di Jl LetJen S Parman Kav 87, Slipi-Jakarta. Website http://www.pjnhk.go.id.

Hal pertama yang kulakukan setelah sampe di rumah sakit adalah mengurus administrasi rawat inap papi. Karena operasi papi dijadwalkan hari Rabu, 9 April 2008, maka papi harus masuk RS untuk persiapan 2 hari sebelumnya, yaitu hari Senin, 7 April 2008 yang adalah hari itu juga.

JADWAL BEDAH & TIKET PESAWAT

Sebenarnya jadwal ini sudah mundur dari jadwal semula tanggal 31 Maret 2008, dikarenakan dokter bedahnya (dr Maizul) ada operasi mendadak. Sayangnya pemberitahuannya telat (tanggal 28 sore, 1 hari sebelum keberangkatan) sehingga aku yang sudah mengantongi tiket pesawat Mandala Air terpaksa membatalkannya (hangus deh 70%).

Pelajaran yg bisa dipetik: Jadwal Operasi sangat padat dan bisa berubah. So, sebelum ada kepastian tanggal operasi, jangan beli tiket pesawat dulu, karena jadwal bisa berubah. Atau kalau mau beli tiket, pilihlah yang bisa direschedule. Kepastian jadwal operasi bisa ditanyakan di 021-5684093 ext 2222 bagian CAO, hari Senin-Jumat pada jam kerja. Petugasnya bernama Pak Yanto dan Pak Soleh sangat cekatan dalam membantu pasien (makasih ya Pak)..

ADMISSION (MASUK RAWAT INAP)

Untuk masuk rawat inap, pasien perlu menunjukkan surat pengantar dari dokter. Pengantar ini diberikan saat konsultasi terakhir. Karena saat itu tidak bawa, maka aku harus minta lagi ke sekretaris dokter Maizul di lantai 2 seberang kamar bedah.
Setelah surat didapat, muncul masalah baru. Kamar penuh ;-( Papi dapat waiting list nomor 11. Gawat juga nih, pikirku. Saat itu sudah jam 10 pagi, kamar belum dapat. Kapan bisa diproses untuk persiapan nih. Bisa-bisa operasinya mundur kalo gak dapet kamar. Untungnya P Yanto menjamin akan menyediakan kamar karena jadwal operasi sudah fix. Hanya saja kelas kamar bisa naik atau turun. Oya, waktu itu kami memilih kelas 1. So, kami putuskan untuk menunggu dan kami tinggalkan no hp utk dihubungi bila kamar telah tersedia.

KAMAR PERAWATAN

Sampai kami ditelpon, kami menunggu dikamar Om yg sedang menjalani prosedur pasang ring/sten. He..he..sakit jantung kok berjamaah. Kamar Om bagus sekali soalnya dia ambil yang kelas super vip (suite). Seharinya untuk kamar aja 1.250.000. Bandingkan dengan kamar kelas 1 yang cuman 200.000 per hari. Oya untuk kamar perawatan terbagi sbb:
- kelas 3: isi 6 orang/kamar
- kelas 2: isi 4 orang/kamar
- kelas 1: isi 2 orang/kamar
- vip : isi 1 orang+1penunggu
- suite : isi 1 orang+1penunggu dg kamar lebih luas kayak hotel.
Utk kamar kelas 1 pun penunggu bisa menginap, tetapi harus minta kartu penjaga pasien dari satpam yg pengantarnya diberikan oleh suster. Lagian tidak tersedia bed khusus. Jadi harus bawa peralatan tidur sendiri seperti tikar, bantal dan selimut. Tapi kalo nggak mau tidur di lantai, masih banyak alternatif. Ntar akan aku tunjukkan di tips berikutnya.
Akhirnya kami dihubungi setelah jam makan siang. Kamar tersedia. Puji Tuhan. Segera kami kembali ke ruang CAO. Disana P Yanto sdh menunggu dan menyiapkan berkas administrasi. Ternyata utk kelas 1, kami harus bayar downpayment sebesar Rp 55.500.000. Untungnya kami bawa dua kartu atm BCA shg kami bisa bayar Rp 50 jt (masing-masing kartu 25 jt) dulu, jd gak harus 55jt penuh. Oya, kalo bayar pake kartu kredit, ada tambahan charge 2.5% lho, kan sayang.
Setelah pembayaran beres, papi langsung dibawa untuk cek darah. Jadi gak langsung ke kamar. Baru setelah selesai, papi diantar ke kamar.
Kamarnya sendiri bersih. Dua bed, full ac, ada lemari, kamar mandi dalam, dan wastafel.
Setelah diberikan baju pasien warna biru, papi diantar untuk foto rontgen. Yah, itu persiapan untuk hari pertama.