Roadmap Operasi Bypass Jantung (1)

Berdasarkan pengalaman bapak aku di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta dan Rumah Sakit Mitra Keluarga Surabaya, Prosedur Operasi ByPass Jantung terdiri atas 3 tahapan besar, yaitu:
A. Tahap Pra Operasi
B. Tahap Operasi
C. Tahap Paska Operasi

A. Tahap Pra Operasi

0. Keluhan Awal, EKG dan Treadmill

Pada awalnya, bapak mengeluhkan adanya sedikit sesak nafas bila berjalan agak tergesa-gesa dan agak jauh. Lalu bapak memutuskan untuk konsultasi ke dokter spesialis jantung (kardiolog). Dari referensi yang kami dapat dari beberapa dokter kenalan kami, kami dirujuk ke salah satu kardiolog yang terbaik di Surabaya, yaitu Dr. Iswanto Pratanu, Sp.JK. Beliau praktek di RS Mitra Keluarga Surabaya dan RS RKZ Surabaya. Selain itu, beliau praktek pribadi di Jl Dharmahusada … (seberang Galaxi Mall).

Pada pertemuan pertama, bapak langsung menjalani pemeriksaan EKG. Namun hasilnya tidak menunjukkan adanya sesuatu yang abnormal. Pemeriksaaan kemudian dilanjutkan dengan treadmill. Hasilnya menunjukkan adanya penyempitan yang cukup signifikan pada pembuluh darah jantung bapak. Namun belum dapat dipastikan berapa titik penyempitan dan berapa besar persentase penyempitan. Untuk mengetahui penyempitan secara lebih detail, dokter Iswanto menyarankan dilakukan prosedur angiografi atau kateterisasi jantung (cat).

Akhirnya disepakati bahwa cat dilaksanakan di Rumah Sakit Mitra Keluarga dalam waktu satu minggu setelahnya. Kami diberikan pengantar untuk diberikan kepada pihak rumah sakit agar disiapkan segala sesuatunya.

1. Kateterisasi (AngioGraphy)

Selama seminggu sebelum prosedur cat dilaksanakan, kami mencari tahu segala sesuatu tentangnya, terutama tentang resiko yang ditimbulkannya. Kami mendapat informasi bahwa prosedur cat mempunyai resiko yang harus diwaspadai terkait dengan emboli (bekuan/gumpalan) darah.

Setelah kami tanyakan ke dokter Iswanto, ternyata resiko itu untuk pasien yang pernah mengalami serangan jantung, karena serangan jantung menyebabkan terjadinya gumpalan darah yang menempel pada dinding pembuluh darah. Saat insersi kateter, emboli tersebut bisa tersenggol kateter sehingga terlepas. Nah, kondisi ini sangat berbahaya karena emboli tersebut bisa langsung menyumbat pembuluh darah jantung. Namun demikian, untuk pasien yang belum pernah mengalami serangan, hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena kecil kemungkinannya terdapat emboli.

Setelah mendapat keyakinan bahwa kateterisasi aman, bapak pergi ke RS Mitra Keluarga untuk menjalani cateterisasi. Setelah menyerahkan surat pengantar dari dr Iswanto, kami diminta untuk membayar DP sebesar Rp 9,5 Juta untuk paket Kateterisasi Jantung. Kemudian, dari ruang cat, jadwal disepakati untuk hari berikutnya.

Keesokan harinya, bapak kembali lagi ke RS Mitra Keluarga untuk menjalani prosedur kateterisasi. Prosedur Kateterisasi dilakukan oleh seorang dokter kardiolog, untuk bapak dilakukan oleh dr Iswanto sendiri. Tujuannya adalah untuk melihat jumlah titik penyempitan pembuluh darah jantung sekaligus tingkat persentase keparahannya. Prosesnya sendiri hanya memerlukan waktu sekitar 1 jam. Sebelum dilakukan prosedur, bapak harus berpuasa paling sedikit 4 jam, dan selama itu hanya boleh minum sedikit air putih.

Lokasi insersi kateter umumnya dilakukan pada dua tempat:
a. Pembuluh darah di Perut bagian bawah, dekat selangkangan

Sebagai persiapan, rambut dan bulu disekitarnya, termasuk rambut kemaluan (pubic hair) harus dicukur, dan sebaiknya yang bersih ;-) . Hal ini dilakukan untuk menjaga higienitas daerah sekitar luka insersi guna mencegah infeksi yang bisa ditimbulkan oleh kuman yg menempel pada rambut/bulu.

b. Pembuluh darah di pergelangan tangan.

Pada saat itu, bapak dikateterisasi dekat selangkangan. Padahal bila memungkinkan (pembuluh darah tangan cukup besar), sebaiknya kateterisasi dilakukan lewat pergelangan tangan. Hal ini karena proses recovery paska kateterisasi via tangan jauh lebih nyaman dibandingkan bila dilakukan via dekat selangkangan. Jika dilakukan lewat pergelangan tangan, pasien hanya diminta untuk tidak menekuk pergelangan tangan selama 4 jam paska kateterisasi. Namun jika lewat dekat selangkangan, pasien diharuskan bed rest dalam posisi terlentang dan selama semalam tidak boleh menekuk kaki disisi yang dilakukan insersi kateter. Sehingga hal ini cukup menyiksa.

Untuk mencegah rasa sakit, bapak diberikan bius/anestesi lokal. Sehingga selama dilakukan kateterisasi, bapak bisa melihat prosesnya pada layar monitor. Waktu itu kami, selaku keluarga pasien, dipanggil untuk ditunjukkan kondisi penyempitan pembuluh jantung yang diderita oleh bapak dan diajak berunding tentang tindakan terbaik yg dapat dilakukan. Akan tetapi, di RSJ Harapan Kita, hal ini tidak dilakukan karena jumlah pasien cat yang sangat banyak.

Hasil angiografi bapak menunjukkan bahwa terdapat lima penyempitan pembuluh darah jantung. Satu 80%, dua 70% dan dua 50%. Tiga diantaranya (80% dan 70%) terletak pada percabangan. Awalnya dr Iswanto menawarkan dua alternatif tindakan, pasang sten yang bisa dilaksanakan saat itu juga oleh beliau atau bypass pembuluh darah jantung diluar Surabaya oleh dokter ahli bedah jantung. Namun dengan mempertimbangkan posisi penyempitan pembuluh darah di percabangan, dr Iswanto lebih menyarankan untuk diambil tindakan bypass. Alasannya adalah selain posisi itu sulit untuk dilaksanakan pemasangan sten, kalaupun dipaksakan kemungkinan buntu kembali dalam waktu kurang dari 1 tahun sangat besar. Sedangkan bila dilakukan bypass, meskipun resikonya lebih besar (sekitar 5%), bila berhasil kemungkinan buntu kembali jauh lebih lama (secara teori bisa sampai 20 th, bila pola makan dan pola hidup dijaga). Dalam hal ini kami sangat menghargai sikap terus terang dr Iswanto yang mengutamakan kepentingan pasiennya.

Untuk bypass, dr Iswanto menyarankan tiga alternatif tempat:

- Rumah Sakit Pusat Jantung Harapan Kita Jakarta

- Rumah Sakit Aventis Penang Malaysia

- Rumah Sakit Glen Eagles Singapore

Saat itu bapak dan kami belum bisa memutuskan, sehingga oleh dr Iswanto luka insersi kateter ditutup dulu tanpa pemasangan sten. Kami diberi waktu sampai sebulan untuk memikirkan alternatif tindakan yang dipilih.

Sebagai hasil kateterisasi jantung, yang juga dikenal dengan nama angiografi, bapak diberikan foto semacam hasil Rontgen/USG ukuran A0 dan sebuah Video CD yang menggambarkan kondisi penyempitan pembuluh darah jantung bapak. Foto dan Video ini yang akan dievaluasi oleh Cardiolog untuk menentukan alternatif tindakan selanjutnya, yaitu pasang sten, operasi bypass atau hanya dilakukan treatment pengobatan.

Setelah selesai kateterisasi, bapak diantar ke kamar perawatan dan karena kateterisasi dilakukan via dekat selangkangan, maka bapak harus bedrest selama semalam untuk menghindari terjadinya pendarahan.

Sebagai perbandingan, proses cat dan pemasangan sten di RS Mitra Keluarga Surabaya dan RS Harapan Kita Jakarta agak berbeda prosedurnya. Bila di RS Mitra Keluarga Surabaya pemasangan sten bisa dilakukan pada saat yang sama setelah angiografi, di RS Harapan Kita Jakarta tidak bisa. Di RS Harapan Kita Jakarta, angiografi dan pemasangan sten dilakukan terpisah pada hari yang berbeda. Setelah angiografi, pasien harus konsultasi dulu dengan kardiolog untuk kemudian dijadwalkan pemasangan sten yang prosesnya sangat mirip dengan kateterisasi jantung untuk angiografi.

2.Keputusan untuk Operasi ByPass Jantung

Setelah maju mundur dan melakukan pertimbangan yang masak serta masukan dari berbagai pihak, akhirnya bapak memutuskan untuk pergi ke Jakarta guna menjalani Operasi Bypass seperti yang direkomendasikan oleh dr Iswanto. Aku sudah memesan tiket pesawat ke Jakarta menggunakan Mandala Air. Namun menjelang keberangkatan, bapak berubah pikiran. Bapak memutuskan untuk pasang ring/sten. Karena tiket pesawat sudah aku beli, maka kami putuskan untuk tetap pergi ke Jakarta, dan minta second opinion dari dokter disana. pemasangan ring. Saat itu, bapak ada perasaan takut untuk menjalani operasi bypass karena itu adalah operasi besar.

3.Konsultasi ke Dokter Bedah Jantung

4.Setting jadwal Operasi

5.Mendaftar Rawat Inap

6.Persiapan menjelang Operasi
a.@home
b.@hospital

7.Admission->masukrawatinap
a.Konfirm kamar perawatan
b.Bayar down payment

8.Persiapan @hospital
a.H-2
b.H-1
c.H

9.Operasi

10.R.ICU

11.R.Intermediate

12.Kembali ke kamar perawatan

13.Rehabilitasi Medik Jantung

14.Keluar rumah sakit

There are no comments on this post

Leave a Reply